Khair Media

Informasi dan berita terbaru dunia pendidikan. Khususnya di lingkungan Kampus Universitas Terbuka. Informasi Beasiswa untuk Mahasiswa dan Pelajar. Perkembangan teknologi pada ranah literasi digital dan kepustakaan.

Iklan Billboard

KIP Kuliah ke Kampus Taiwan: Muchsin Maulana Sukses Raih Double Degree Internasional

Author
Published Juni 16, 2026
KIP Kuliah ke Kampus Taiwan: Muchsin Maulana Sukses Raih Double Degree Internasional
KIP Kuliah Program Double Degree

Namanya Muchsin Maulana. Bukan dari keluarga berada. Bukan pula dari kampus ternama yang biasa mengirim mahasiswanya ke luar negeri. Tapi pada Sabtu, 6 Juni 2026, ia berdiri di atas panggung wisuda St. John's University, Taiwan, menerima dua ijazah sekaligus dari dua negara yang berbeda.

Kisah ini bukan fiksi. Ini nyata. Dan inilah yang membuat cerita Muchsin justru lebih berharga dari sekadar prestasi akademik biasa.

Siapa Muchsin Maulana?

Muchsin Maulana adalah mahasiswa Program Studi Sistem Informasi di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Ia adalah salah satu penerima Beasiswa KIP-K (Kartu Indonesia Pintar Kuliah) program bantuan pemerintah yang dirancang khusus untuk mahasiswa dari keluarga kurang mampu secara ekonomi agar tetap bisa mengakses pendidikan tinggi berkualitas.

Tidak ada yang istimewa dari latar belakangnya jika dilihat dari kacamata konvensional. Tapi justru di situlah letak kekuatannya: ia membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penjara bagi ambisi intelektual.

Bersama dua rekannya, Birrul Walidain Al Musthofa dan Muhammad Halili, Muchsin berhasil menyelesaikan program kuliah gelar ganda (double degree) di Taiwan melalui skema International Industrial Talents Education Special Program (INTENSE), sebuah program hasil kolaborasi Unusa dengan St. John's University Taiwan yang didukung langsung oleh Kementerian Pendidikan Taiwan.


Apa Itu Kuliah Program Double Degree?

Sebelum membahas lebih jauh perjalanan Muchsin, penting untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan program double degree.

Double degree atau disebut juga dual degree adalah program studi hasil kerja sama antara dua universitas berbeda yang memungkinkan mahasiswa memperoleh dua ijazah resmi setelah memenuhi seluruh persyaratan akademik dari kedua institusi tersebut.

Ini berbeda dengan twinning program atau international class. Berikut perbedaan mendasarnya:

Perbedaan Kuliah Double Degree, Twinning Program dan Internastional Class

Kuliah Double Degree

Skema double degree ke Taiwan yang diikuti Muchsin menggunakan pola 3+1, yaitu tiga tahun kuliah di Unusa (Indonesia) dan satu tahun penyelesaian studi plus pengalaman industri langsung di St. John's University Taiwan. Skema ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya mendapat gelar akademik, tetapi juga kompetensi profesional internasional yang terukur.


Syarat Terbaru Kuliah Double Degree di Taiwan 2026

Bagi mahasiswa Indonesia yang ingin mengikuti jejak Muchsin, berikut syarat umum yang perlu dipersiapkan untuk mendaftar program double degree ke Taiwan di tahun 2026:

Persyaratan Akademik

  • IPK minimal 3,00 (skala 4,00), beberapa program mensyaratkan lebih tinggi
  • Aktif sebagai mahasiswa di perguruan tinggi yang memiliki MoU resmi dengan universitas mitra di Taiwan
  • Riwayat akademik bersih, tidak sedang dalam masa skorsing

Persyaratan Bahasa

  • Kemampuan Bahasa Mandarin (TOCFL minimal level B1) untuk program berbahasa Mandarin
  • Atau kemampuan Bahasa Inggris (TOEFL/IELTS) untuk program berbahasa Inggris
  • Catatan: banyak program INTENSE seperti yang diikuti Muchsin menyediakan kelas bahasa sebagai persiapan

Persyaratan Dokumen

  • KTP atau Paspor aktif (paspor wajib untuk berangkat ke Taiwan)
  • Transkrip akademik resmi dari kampus asal
  • Surat rekomendasi dari dosen pembimbing atau dekan
  • Foto ukuran 4×6 berwarna
  • Surat pernyataan kesanggupan mengikuti program
  • Untuk penerima Beasiswa KIP-K: surat keterangan aktif penerima beasiswa

Persyaratan Khusus Program INTENSE (Unusa–St. John's)

  • Mahasiswa aktif Prodi Sistem Informasi atau prodi yang bermitra
  • Lulus seleksi internal kampus
  • Bersedia menjalani program magang industri di Taiwan selama program berlangsung

Finansial

  • Biaya kuliah di Taiwan berkisar antara NT$100.000–NT$200.000 per tahun (sekitar Rp48 juta–Rp97 juta)
  • Biaya hidup sekitar Rp4–5 juta per bulan di kota seperti Taoyuan
  • Mahasiswa INTENSE dapat menutup biaya hidup dari penghasilan magang industri selama di Taiwan.

Perjalanan Nyata Muchsin Maulana: Dari Surabaya ke Taiwan

Awal yang Tidak Terduga

Muchsin sendiri mengaku tidak pernah membayangkan akan kuliah di luar negeri. Sebagai penerima KIP Kuliah, fokus utamanya adalah menyelesaikan studi di Unusa. Tapi ketika informasi program INTENSE dibuka, ia memutuskan untuk mencoba.

"Saya tidak pernah menyangka bisa sampai di titik ini. Kami belajar di lingkungan internasional, berinteraksi dengan berbagai budaya, sekaligus memperoleh peluang karier yang lebih luas," ungkap Muchsin.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di baliknya tersimpan perjalanan panjang yang penuh adaptasi dan perjuangan.

Culture Shock di Taiwan

Begitu tiba di Taiwan, Muchsin dan rekan-rekannya langsung berhadapan dengan kenyataan yang berbeda dari ekspektasi. Taiwan bukan Indonesia. Budaya berbeda, bahasa berbeda, bahkan cuaca berbeda empat musim yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Culture shock yang mereka alami tidak hanya soal bahasa Mandarin yang terasa asing. Lebih dari itu:

  • Makanan halal yang terbatas, sebagai minoritas Muslim di Taiwan, mereka harus cermat memilih makanan setiap harinya
  • Sistem perkuliahan internasional yang lebih demanding dari sistem kuliah di Indonesia
  • Ritme kerja industri Taiwan yang jauh lebih cepat dan terstruktur
  • Jarak dari keluarga, wisuda pun digelar tanpa kehadiran orang tua. Muhammad Halili, rekan Muchsin, bercerita bahwa momen wisuda terasa aneh karena keluarga hanya bisa menyaksikan melalui live streaming.

Namun Muchsin tidak mundur. Ia justru menjadikan setiap hambatan sebagai bahan bakar untuk terus maju.


Hambatan dan Kendala Kuliah Double Degree

Berdasarkan pengalaman nyata Muchsin dan rekan-rekannya, setidaknya ada lima hambatan utama yang dihadapi mahasiswa saat menjalani program double degree di luar negeri, khususnya di Taiwan:

Hambatan Bahasa Mandarin

Ini yang paling sering menjadi tembok pertama. Muhammad Halili mengakui bahasa Mandarin menjadi tantangan terberat di awal program. Kuliah dalam bahasa asing, berkomunikasi dengan dosen Taiwan, hingga membaca instruksi kerja di industri. Semuanya membutuhkan adaptasi bahasa yang tidak instan.

Solusi dari pengalaman Muchsin: Manfaatkan kelas bahasa yang disediakan program, belajar dari lingkungan (teman lokal Taiwan, staf kampus), dan jangan malu untuk terus bertanya. Seiring waktu, kemampuan bahasa berkembang secara organik.

Tekanan Akademik Ganda

Kuliah double degree berarti memenuhi standar dua institusi sekaligus. Kurikulum Unusa dan St. John's University harus sama-sama dipenuhi. Tidak ada pilihan untuk setengah-setengah.

Solusi: Buat jadwal belajar yang terstruktur sejak hari pertama. Manfaatkan sistem akademik kampus Taiwan yang umumnya lebih sistematis dan berbasis riset.

Biaya Hidup di Negara Asing

Meski program INTENSE memberikan akses magang berbayar, biaya hidup di Taiwan tetap lebih tinggi dibanding Indonesia. Pengeluaran untuk makanan halal pun cenderung lebih mahal.

Solusi: Penghasilan dari program magang industri di perusahaan Taiwan bisa menutupi biaya hidup, bahkan beberapa mahasiswa masih bisa mengirim uang ke keluarga di Indonesia. Kuncinya adalah manajemen keuangan yang disiplin sejak awal.

Isolasi Sosial sebagai Minoritas Muslim

Menjadi Muslim di Taiwan bukan hal yang mudah. Fasilitas ibadah terbatas, makanan halal tidak semudah ditemukan, dan interaksi sosial membutuhkan sensitivitas budaya tinggi.

Solusi: Bangun komunitas dengan sesama mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan. Banyak kota di Taiwan kini sudah memiliki komunitas Muslim yang aktif dan masjid yang bisa menjadi pusat koneksi sosial.

Rindu Keluarga dan Tekanan Psikologis

Ini hambatan yang sering diremehkan tapi nyata dirasakan. Muchsin dan kawan-kawan menjalani program jauh dari orang tua, keluarga, dan lingkungan yang familiar.

Solusi: Pertahankan komunikasi rutin dengan keluarga via video call. Muchsin membuktikan bahwa jarak bukan penghalang untuk tetap merasakan dukungan emosional dari rumah.


Apa yang Didapat Setelah Kuliah Double Degree di Taiwan?

Setelah menyelesaikan program INTENSE, Muchsin Maulana dan kedua rekannya tidak langsung pulang ke Indonesia. Mereka bertiga memutuskan untuk melanjutkan karier profesional di Taiwan, sebuah keputusan yang mencerminkan betapa transformatifnya pengalaman kuliah gelar ganda internasional ini.

Keuntungan konkret yang mereka raih:

  • Dua ijazah resmi dari Unusa (Indonesia) dan St. John's University (Taiwan)
  • Pengalaman kerja industri internasional yang langsung tercantum di CV
  • Kemampuan bahasa Mandarin dan Inggris yang meningkat drastis
  • Jaringan profesional global dari lingkungan kampus dan industri Taiwan
  • Kepercayaan diri bersaing di pasar kerja global yang jauh lebih tinggi

Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, menyebut capaian ini sebagai bukti nyata bahwa mahasiswa Indonesia termasuk penerima KIP-K sekalipun memiliki kemampuan untuk berprestasi di level global jika diberi kesempatan dan dukungan yang tepat.

Pelajaran dari Muchsin: Pesan untuk Mahasiswa Indonesia

Kisah Muchsin Maulana bukan sekadar kisah sukses akademik. Ini adalah kisah tentang keberanian mengambil kesempatan di tengah keterbatasan.

Bagi mahasiswa Indonesia yang sedang mempertimbangkan program double degree, khususnya ke Taiwan, ada beberapa pelajaran praktis yang bisa diambil dari perjalanan Muchsin:

  1. Manfaatkan program internasional yang sudah ada di kampusmu: informasi INTENSE tersedia di Unusa, dan kampus lain pun memiliki program serupa.
  2. Jangan jadikan status ekonomi sebagai alasanBeasiswa KIP Kuliah justru dirancang untuk membuka pintu yang selama ini dianggap tertutup.
  3. Persiapkan bahasa sejak awal: belajar Bahasa Mandarin bahkan sebelum program dimulai akan sangat membantu.
  4. Siapkan mental untuk culture shock: ini bukan kelemahan, ini proses tumbuh.
  5. Manfaatkan pengalaman magang industri semaksimal mungkin: ini yang membedakan kuliah double degree dari kuliah biasa.

Penutup: Double Degree Bukan Lagi Milik Si Kaya

Dulu, kuliah double degree ke luar negeri identik dengan mahasiswa dari keluarga mampu. Butuh uang banyak, koneksi luas, dan latar belakang sekolah internasional.

Muchsin Maulana meruntuhkan semua asumsi itu.

Dengan status penerima Beasiswa KIP Kuliah, tanpa pernah membayangkan bisa ke luar negeri, ia kini berdiri sebagai bukti hidup bahwa pendidikan internasional adalah hak semua orang, bukan hak istimewa segelintir orang.

Jika Sobat KhairMedia adalah mahasiswa yang sedang membaca artikel ini, entah dari kamar kos yang sederhana, dari kampung yang jauh dari kota besar, atau dari keluarga yang tidak punya banyak uang, kisah Muchsin Maulana adalah bukti bahwa jalan meraih cita-cita belum selesai. Bahkan mungkin belum dimulai.