Refleksi dari Ruang Kuliah: Mahasiswa Gen Z Lancar Bicara, Tapi Lupa Cara Berpikir!
Diskusi kelas tengah berlangsung, seorang mahasiswa diminta dosennya untuk mengulang inti materi yang baru saja dibahas bersama. Mahasiswa tersebut menjawab dengan cepat, percaya diri, dan bahasanya mengalir lancar seperti seorang pembawa acara Podcast:
“Jadi tuh, intinya gini sih, sebenernya konsepnya simple banget, nggak usah dibikin ribet.”
Dosen menunggu kalimat lanjutan yang menjelaskan konsep "simple" dari mahasiswa tersebut. Ternyata tidak ada. Penjelasannya berhenti tepat sebelum benar-benar dimulai. Jawaban mahasiswa lancar dan mengalir, namun maknanya menguap dengan cepat.
Momen kecil semacam ini ternyata bukan kejadian langka. Banyak rekan pengajar yang mengeluhkan hal serupa: mahasiswa tampak cerdas, komunikatif, dan gaul, tetapi begitu diminta menjelaskan sesuatu secara runtut, kalimatnya kehilangan arah. Mereka menguasai gestur, intonasi, dan kosakata kekinian dengan sangat baik. Substansinya sering kosong. Lancar di permukaan, kosong di kedalaman.
Bahasa yang Berubah, atau Nalar yang Menyusut?
Tidak bisa dipungkiri, bahasa Gen Z memang punya daya tariknya sendiri. Istilah seperti “bestie”, “lowkey”, “FOMO”, atau singkatan seperti “LOL” dan “btw” lahir dari kebiasaan hidup di dunia digital, terutama lewat Instagram, Twitter, dan TikTok. Bahasa semacam ini sebenarnya efisien, padat, dan sarat ekspresi emosional dalam waktu singkat. Ia juga menjadi alat membangun identitas kolektif sekaligus penanda zaman. Setiap generasi memang punya bahasanya sendiri.
Masalahnya muncul ketika kelancaran berbahasa gaul ini tidak berbanding lurus dengan kemampuan memahami teks yang lebih kompleks. Data PISA 2022 yang dirilis akhir 2023 menunjukkan skor membaca siswa Indonesia hanya di angka 359, jauh di bawah rata-rata negara peserta dan menempatkan Indonesia di papan bawah dunia.
Artinya, banyak anak muda Indonesia kesulitan memahami teks panjang, argumen berlapis, atau bacaan yang membutuhkan penalaran. Mereka bisa bicara cepat tentang banyak hal. Tapi memahami satu hal secara mendalam, itu soal lain.
Fenomena ini juga menciptakan jarak komunikasi antar generasi yang nyata. Mayoritas dosen, bahkan yang usianya tidak terlalu jauh dari mahasiswanya, mengaku kewalahan mengikuti istilah yang berubah hampir setiap bulan.
Hari ini satu istilah populer, bulan depan sudah muncul istilah baru yang belum tentu bermakna sama. Dosen yang memaksakan diri ikut memakai istilah tersebut kadang justru terdengar canggung, bukannya lebih dekat. Bahasa yang seharusnya menjembatani, malah berisiko menjadi sekat baru.
Ketika “Disuapi” Menjadi Kebiasaan Seumur Hidup
Kebiasaan ini tidak tumbuh tiba-tiba begitu mahasiswa menginjakkan kaki di kampus. Sejak bangku sekolah, banyak siswa dibiasakan menerima materi secara instan dari guru, tanpa pernah dituntut membaca dan mencerna sendiri terlebih dahulu.
Pola ini membentuk kebiasaan belajar yang sangat pasif: menunggu disuapi, bukan mencari sendiri. Ketika pola itu dibawa ke ruang kuliah, dosen mau tidak mau berubah peran. Dari pengajar menjadi juru masak yang menghaluskan semua bahan bacaan.
Seorang Dosen di salah satu universitas di Indonesia menemukan mahasiswa yang kesulitan membaca satu kalimat utuh, sehingga ia harus membacakan materi di depan kelas seolah menyuapi anak kecil.
Fenomena serupa juga disuarakan mahasiswa sendiri di Indonesia. Mereka mengaku bukan tidak bisa membaca, melainkan tidak terbiasa memahami bacaan secara mendalam karena terlalu sering mengonsumsi video pendek. Otak menjadi terlatih untuk memindai cepat, bukan merenung. Scanning, bukan understanding.
AI: Asisten Belajar atau Pengganti Berpikir?
Di tengah situasi ini, kehadiran AI generatif sebenarnya bisa menjadi solusi besar. Survei global Chegg tahun 2025 mencatat sekitar delapan dari sepuluh mahasiswa sarjana di seluruh dunia sudah menggunakan AI untuk mendukung studi mereka.
Indonesia bahkan tercatat sebagai negara dengan tingkat penggunaan tertinggi, mencapai sekitar 95% mahasiswa. Angka ini menunjukkan betapa cepatnya adopsi teknologi di kalangan mahasiswa kita. Cepat sekali, bahkan terlalu cepat.
Sayangnya, pola penggunaannya sering keliru. Banyak mahasiswa langsung mengirimkan seluruh materi kuliah ke AI, lalu meminta ringkasan dengan bahasa paling sederhana, yang oleh sebagian mahasiswa sendiri disebut sebagai “bahasa bayi”.
Mereka membaca hasil ringkasan itu, bukan materi aslinya. Lebih jauh lagi, sebagian bahkan tidak membaca ulang hasil tugas yang sudah dikerjakan AI atas nama mereka. Tugas selesai, tapi pemahaman tidak pernah terjadi.
Brain Rot: Ketika Kecepatan Mengalahkan Kedalaman
Gabungan antara kebiasaan disuapi dan ketergantungan pada AI inilah yang banyak disebut sebagai gejala “brain rot”, yaitu penurunan kemampuan fokus dan berpikir akibat konsumsi informasi yang serba cepat dan dangkal.
Konten video berdurasi pendek melatih otak untuk mengharapkan jawaban instan. Begitu dihadapkan pada bacaan panjang, rasa tidak sabar muncul lebih dulu daripada rasa ingin tahu. Bahkan untuk mengevaluasi pekerjaan sendiri, banyak mahasiswa tidak punya cukup ketahanan membaca. Tugas dikumpulkan, lalu dilupakan begitu saja.
Dampaknya tidak berhenti di bangku kuliah. Sejumlah laporan media internasional awal tahun ini memperingatkan bahwa banyak kampus mulai menurunkan standar akademik karena kemampuan literasi mahasiswa yang merosot, sambil mencatat kekhawatiran soal kecemasan dan kesiapan kerja lulusan baru.
Kemampuan menulis akademik, menyusun argumen, dan menganalisis data menjadi korban paling nyata. Kompetensi itulah yang sebenarnya paling dicari dunia kerja. Ironisnya, justru itu yang paling terabaikan.
Catatan dari Balik Meja Dosen
Dosen merasakan dilema ini dari sisi yang berbeda. Berusaha dekat dengan mahasiswa, memahami bahasa dan keresahan mereka soal burnout atau kesehatan mental, sebenarnya adalah hal baik. Tapi kedekatan itu punya konsekuensi: batas otoritas menjadi sangat tipis. Jika terlalu santai, dosen dianggap teman tongkrongan yang boleh diabaikan. Namun jika terlalu tegas, dosen dicap kuno dan tidak relate.
Dalam kondisi seperti ini, dosen sering terjebak menjadi penerjemah, bukan lagi fasilitator berpikir. Materi yang seharusnya dibaca dan direnungkan, terpaksa dipotong menjadi poin-poin pendek agar “masuk” ke kebiasaan mahasiswa yang terbiasa dengan durasi konten singkat. Lambat laun, ruang kuliah justru ikut beradaptasi dengan ritme media sosial. Padahal, berpikir kritis membutuhkan proses yang berlawanan dengan ritme itu. Pelan, berlapis, dan kadang membosankan.
Generasi yang Saling Tidak Paham?
Ada satu hal yang sering terlewat dalam perbincangan soal bahasa Gen Z: persoalan ini bukan cuma soal kosakata, tapi juga soal makna di baliknya. Ketika seorang mahasiswa mengatakan dirinya "burnout" karena tugas menumpuk, sebagian dosen menganggapnya sekadar alasan untuk menghindari tugas pekerjaan.
Padahal, bagi banyak mahasiswa, ungkapan itu mewakili kondisi psikologis nyata akibat tekanan akademik dan media sosial yang tidak pernah berhenti. Di titik inilah perbedaan bahasa berubah menjadi perbedaan cara memandang realitas. Dua kata yang sama, dua makna yang jauh berbeda.
Sebaliknya, ketika dosen meminta mahasiswa membaca dan memahami sendiri sebuah teks, sebagian mahasiswa menganggapnya sebagai tuntutan berlebihan, bahkan ketinggalan zaman, sebab ada jawaban: “kan ada AI”.
Kedua belah pihak sama-sama merasa benar dengan kerangka berpikirnya masing-masing. Yang hilang justru ruang dialog untuk saling menjelaskan, bukan saling menyalahkan. Tanpa ruang itu, kesalahpahaman akan terus berulang setiap tahun ajaran baru. Lingkaran yang tidak pernah putus.
Tiga Gejala yang Perlu Kita Waspadai Bersama
Dari berbagai pengamatan dan data di atas, setidaknya ada tiga gejala utama yang sedang terjadi bersamaan di ruang kuliah saat ini. Ketiganya saling berkaitan dan memperkuat satu sama lain. Kalau dibiarkan, gejala ini bukan lagi sekadar tren bahasa yang lucu untuk dibahas di media sosial. Ia adalah peringatan dini. Berikut tiga gejala yang dimaksud:
- Kefasihan verbal tanpa kedalaman konseptual. Mahasiswa bisa berbicara panjang dengan gaya santai dan percaya diri, tetapi sering kesulitan menjelaskan logika di balik argumennya sendiri.
- Orientasi pada kecepatan, bukan kedalaman. Proses belajar yang seharusnya membutuhkan waktu untuk merenung, kini diperlakukan seperti scrolling: cepat dilihat, cepat dilupakan.
- Delegasi nalar kepada AI. Bukan hanya tugas yang didelegasikan, tetapi juga proses berpikir itu sendiri, sehingga mahasiswa kehilangan kesempatan untuk berlatih bernalar.
Ketiga gejala ini bukan fenomena yang berdiri sendiri. Mereka adalah satu rangkaian sebab akibat yang saling menyuburkan. Bahasa yang serba cepat memudahkan komunikasi sehari-hari, namun pelan-pelan membentuk pola pikir yang juga ingin segala sesuatunya cepat. Termasuk dalam hal belajar. Inilah inti masalahnya.
Bukan Hanya Menyalahkan Mahasiswa
Terlalu mudah dan tidak adil jika semua ini hanya ditimpakan kepada mahasiswa sebagai generasi yang malas. Sistem pendidikan Indonesia, sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, masih banyak yang menilai keberhasilan dari kecepatan menjawab, bukan kedalaman memahami.
Ujian pilihan ganda, tugas yang dikejar deadline mepet, dan beban kuliah yang menumpuk, semuanya mendorong mahasiswa mencari jalan tercepat. AI dan bahasa singkat hanyalah alat yang tersedia. Mereka hanya memanfaatkan apa yang ada di tangan.
Di sisi lain, banyak mahasiswa sudah menyadari dan menyuarakan keresahan ini. Diskusi mahasiswa belakangan justru mengangkat soal bagaimana tren bahasa dan kebiasaan digital mereka bisa menjadi pisau bermata dua.
Bahasa Gen Z, bagi mereka, adalah bentuk adaptasi terhadap dunia yang berubah cepat, sekaligus identitas yang ingin diakui. Mereka tidak menolak disebut berubah. Mereka hanya ingin perubahan itu dipahami, bukan dihakimi.
Bahasa sebagai Cermin, Bukan Kambing Hitam
Dari sudut pandang linguistik, apa yang terjadi pada bahasa Gen Z sebenarnya wajar dan menarik untuk diteliti. Setiap generasi selalu menciptakan kosakata, gaya, dan ungkapan barunya sendiri sebagai respons terhadap zaman. Bahasa Gen Z menunjukkan bagaimana teknologi, budaya pop global, dan kebutuhan ekspresi cepat berpadu menjadi satu sistem komunikasi baru. Ini bukan kemunduran bahasa. Ini evolusi bahasa.
Yang perlu diwaspadai bukan bahasanya, melainkan apa yang dibawa serta oleh bahasa itu: pola pikir serba instan yang ikut menyusup ke ranah akademik. Singkatan dan jalan pintas dalam komunikasi sehari-hari mungkin tidak masalah. Tetapi ketika jalan pintas yang sama diterapkan pada proses membaca, belajar, dan berpikir, hasilnya adalah kompetensi yang berhenti berkembang. Bahasa hanyalah cermin. Yang retak adalah kebiasaan berpikir di belakangnya.
Apa yang Bisa Dilakukan Institusi Kampus dan Dosen?
Pertanyaannya kemudian, apa yang bisa dilakukan dunia kampus untuk merespons kondisi ini secara realistis, tanpa pura-pura AI tidak ada dan tanpa menyalahkan mahasiswa secara membabi buta? Setidaknya ada beberapa langkah yang menurut Admin KhairMedia layak dipertimbangkan bersama.
Langkah-langkah ini tidak butuh anggaran besar. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengubah kebiasaan lama.
- Mengubah desain penilaian dari sekadar hasil akhir menjadi proses berpikir, misalnya melalui jurnal refleksi, draf bertahap, atau presentasi lisan tanpa teks.
- Mengajarkan literasi AI secara eksplisit, yaitu bagaimana menggunakan AI sebagai alat bantu berpikir, bukan pengganti proses berpikir itu sendiri.
- Menghidupkan kembali kebiasaan membaca mendalam secara bertahap, misalnya lewat diskusi kecil berbasis teks pendek yang dibahas tuntas, bukan teks panjang yang dilewati begitu saja.
- Membangun jembatan bahasa antar generasi di ruang kelas, di mana dosen tidak harus ikut gaya bicara mahasiswa, tetapi tetap bisa dipahami tanpa mengorbankan substansi.
Keempat langkah di atas sebenarnya sederhana, tetapi membutuhkan konsistensi yang tidak mudah. Perubahan kebiasaan berpikir tidak bisa terjadi dalam satu semester. Hal itu butuh pengulangan, kesabaran, dan keteladanan dari pengajar itu sendiri. Dosen yang masih mengandalkan metode mengajar lama, sambil mengeluh mahasiswa tidak membaca, juga perlu berkaca. Perubahan harus datang dari dua arah.
Penutup dan Kesimpulan
Pada akhirnya, judul “Mahasiswa Gen Z Lancar Bicara Tapi Lupa Cara Berpikir” sebagai sudut pandang kritis bukan dimaksudkan sebagai stigma atau ejekan. Ini menjadi cermin bagi kita semua, mahasiswa, dosen, kampus, bahkan sistem pendidikan secara keseluruhan, untuk berhenti sejenak dan bertanya: ke arah mana kebiasaan berpikir generasi ini sedang dibentuk?
Bahasa boleh terus berubah secepat tren di media sosial. Tapi kemampuan berpikir mendalam jangan sampai ikut menjadi korban yang dilupakan.
Ruang kuliah seharusnya menjadi tempat dimana kecepatan dan kedalaman bisa berjalan beriringan, bukan saling menggantikan. Admin KhairPedia percaya pada generasi ini (Gen Z) punya potensi besar untuk itu, asal diberi ruang dan dorongan yang tepat.
Mereka cerdas, adaptif, dan terbuka pada hal baru. Tugas pendidik atau pengajar hanya satu: jangan biarkan kecepatan membungkam kedalaman.
