Khair Media

Informasi dan berita terbaru dunia pendidikan. Khususnya di lingkungan Kampus Universitas Terbuka. Informasi Beasiswa untuk Mahasiswa dan Pelajar. Perkembangan teknologi pada ranah literasi digital dan kepustakaan.

Iklan Billboard

Gen Z Paling Mahir Pakai AI, Tapi Paling Takut menjadi Korban Kemajuan Teknologi

Author
Published Juni 21, 2026
Gen Z Paling Mahir Pakai AI, Tapi Paling Takut menjadi Korban Kemajuan Teknologi

cara menggunakan ai dengan bijak

Mahasiswa generasi Z duduk dengan laptop terbuka, jari mereka lincah berpindah dari satu tab ke tab lain, dari chatbot AI ke dokumen tugas, dari aplikasi catatan ke kolom obrolan dengan asisten virtual. Mereka tampak begitu menguasai teknologi. 

Tapi coba tanya langsung. Apakah mereka tenang menghadapi masa depan yang dikuasai kecerdasan buatan? Jawabannya, mengejutkan. Banyak yang justru gelisah.

Admin KhairMedia yang sudah paham dunia teknologi AI menyaksikan langsung dua sisi mata uang yang sama. Di satu sisi, Gen Z adalah generasi paling cakap mengoperasikan artificial intelligence. Di sisi lain, mereka justru paling rentan kehilangan arah ketika teknologi itu berkembang lebih cepat dari kesiapan mental.


Generasi yang Tumbuh Bersama Algoritma

Gen Z tidak mengenal dunia tanpa internet cepat. Mereka lahir dan besar bersamaan dengan kemunculan machine learning, asisten suara, dan rekomendasi otomatis di setiap aplikasi. Maka tidak mengherankan jika adopsi AI untuk mahasiswa di Indonesia sangat tinggi.

Data terbaru menjadi bukti. Survei Global Student Survey 2025 dari Chegg menunjukkan bahwa 4 dari 5 atau sekitar 80% mahasiswa di dunia menggunakan generative AI untuk mendukung studi mereka. Namun yang paling mengejutkan, proporsi tertinggi justru tercatat di Indonesia, mencapai 95%, melampaui rata-rata global.

Bukan sekadar mencoba-coba. Intensitas penggunaannya pun tinggi. Sebanyak 9% mahasiswa Indonesia bertanya lebih dari 10 kali sehari kepada GenAI, jauh di atas rata-rata global yang hanya 6%. Sementara 17% lainnya bertanya 6 hingga 10 kali per hari. Artinya, chatbot AI sudah menjadi teman belajar harian, bukan sekadar alat darurat saat deadline.

Data dari sisi pengguna umum pun selaras. Survei internet APJII 2025 mencatat bahwa kelompok usia yang paling banyak memanfaatkan AI adalah Generasi Z, dengan persentase 43,7%, jauh di atas milenial yang hanya 22,3%. Gen Z memang memimpin. Tapi ada catatan penting di baliknya.


Mahir Memakai, Tapi Rapuh Memahami

Tren peningkatan penggunaan AI di Indonesia ternyata tidak diiringi peningkatan literasi AI masyarakat. Indeks literasi AI hanya mencapai skor 49,96, yang menunjukkan kategori masih rendah dan belum siap menghadapi perkembangan teknologi AI secara optimal.

Mahir mengetik prompt. Tapi belum tentu paham logika di baliknya. Inilah masalah pertama Gen Z dalam menghadapi AI generatif. Mereka tahu cara memakai. Mereka belum tentu tahu cara menilai. Saat sebuah jawaban dari AI tools muncul di layar, banyak yang menerimanya begitu saja. Tanpa verifikasi. Tanpa cek ulang. Tanpa nalar kritis.

Ada juga kekhawatiran yang muncul dari pihak lain, bukan dari mahasiswa sendiri. Fenomena dominasi penggunaan AI generatif oleh mahasiswa memicu kecemasan dari kalangan orang tua terkait masa depan akademis anak mereka. Para orang tua mengkhawatirkan dampak jangka panjang teknologi tersebut terhadap independensi berpikir para mahasiswa.

Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Survei terpisah dari Echelon Insights terhadap 1.511 orang tua menunjukkan 56% responden meyakini anak mereka aktif menggunakan AI, sehingga memerlukan pengawasan ketat demi menjaga kemampuan berpikir kritis. Bahkan Survei EdChoice 2025 mencatat 65 persen orang tua mendukung kampus untuk mengajarkan penggunaan AI secara bijak kepada mahasiswa.

Singkatnya. Kecepatan adopsi tidak berbanding lurus dengan kedalaman pemahaman. Inilah akar dari rasa takut yang menyelinap di balik kemahiran Gen Z.


Empat Wajah Ketakutan Gen Z terhadap AI

Setidaknya ada empat kecemasan utama yang membayangi generasi ini saat berhadapan dengan disrupsi teknologi AI.

Pertama, ketakutan akan kehilangan pekerjaan. Banyak mahasiswa bertanya jujur. Untuk apa kuliah empat tahun jika pekerjaan yang mereka tuju nanti bisa digantikan algoritma? Ketakutan ini wajar. Otomatisasi pekerjaan bukan lagi wacana jauh, melainkan kenyataan yang sudah dimulai di berbagai industri.

Kedua, ketakutan akan ketergantungan yang melumpuhkan. Sadar atau tidak, sebagian mahasiswa mulai kehilangan kebiasaan berpikir runtut sendiri. Tugas yang dulu memaksa mereka membaca, merangkum, dan menyimpulkan, kini diselesaikan dalam hitungan detik oleh AI generatif. Hasilnya cepat. Tapi proses berpikir yang seharusnya terlatih, justru menghilang.

Ketiga, ketakutan manipulasi diri. Di tengah maraknya konten buatan AI, banyak Gen Z bertanya pada dirinya sendiri. Apakah karya yang mereka hasilkan benar-benar murni dari pemikiran mereka? Krisis identitas akademik ini nyata, terutama bagi mahasiswa jurusan kreatif dan penulisan.

Keempat, ketakutan akan keamanan data dan privasi. Hampir setiap interaksi dengan AI tools meninggalkan jejak digital. Sebagian mahasiswa mulai menyadari risiko ini. Tapi kesadaran tersebut sering kalah oleh kemudahan yang ditawarkan layanan gratis.

Keempat ketakutan ini saling terkait. Membentuk semacam kecemasan kolektif yang jarang diungkapkan secara terbuka, namun terasa nyata dalam keseharian mereka.


Kampus sebagai Garda Terdepan Literasi AI

Pertanyaannya kemudian, apa yang harus dilakukan kampus? Jawabannya bukan melarang. Pelarangan hanya akan mendorong penggunaan diam-diam tanpa pengawasan.

Pendekatan yang lebih realistis justru datang dari sejumlah perguruan tinggi yang mulai merangkul AI dalam pendidikan tinggi secara terbuka. Salah satu kampus besar di Indonesia menegaskan bahwa daripada melarang mahasiswa menggunakan AI, pihak kampus justru mengajarkan penggunaan AI yang tepat, mulai dari memahami konsep dasarnya hingga pentingnya klarifikasi terhadap setiap informasi yang dihasilkan.

Pendekatan ini menekankan satu hal penting. Mahasiswa harus menjadi pemegang kendali atas penggunaan AI, bukan sekadar pengguna pasif, sehingga mereka bertanggung jawab untuk memastikan kebenaran informasi atau dokumen yang dihasilkan AI.

Di kampus lain, pendekatannya lebih sistematis lagi. Mahasiswa diarahkan untuk melakukan verifikasi serta evaluasi mendalam terhadap data hasil produksi AI, mulai dari lini riset hingga program kemitraan industri, dengan dukungan infrastruktur digital terintegrasi milik kampus.

Langkah semacam ini sejalan dengan kebutuhan dunia kerja ke depan. Berdasarkan laporan Future of Jobs Report 2025, aspek kreativitas, kolaborasi, serta adaptabilitas menjadi sangat penting karena 39% kemampuan inti pekerja diprediksi berubah pada tahun 2030. Artinya, kampus tidak hanya dituntut mengajarkan cara memakai AI tools, tetapi juga membentuk kemampuan yang tidak bisa digantikan mesin.

Sayangnya, tidak semua institusi pendidikan siap menjalankan transformasi ini dengan mulus. Survei APJII mencatat enam tantangan utama penggunaan AI oleh lembaga pendidikan di Indonesia, dengan tantangan terbesar berupa kurangnya tenaga ahli atau staf yang terampil dalam teknologi AI, mencapai 23,7% responden. Selain itu, terdapat pula resistansi dari murid, mahasiswa, dan orang tua yang lebih nyaman berinteraksi dengan tenaga pengajar manusia, serta infrastruktur teknologi lembaga pendidikan yang belum mendukung penerapan AI secara optimal.


Contoh Nyata Pemanfaatan AI di Dunia Kampus

Agar lebih konkret, berikut beberapa contoh pemanfaatan AI untuk mahasiswa yang sudah lazim terjadi di lingkungan kampus saat ini.

Pertama, AI untuk riset akademik. Mahasiswa memanfaatkan platform pencarian jurnal berbasis AI untuk merangkum puluhan artikel ilmiah dalam waktu singkat. Proses yang dulu memakan waktu berhari-hari, kini bisa dilakukan dalam hitungan menit. Namun, dosen tetap perlu mengingatkan pentingnya membaca sumber asli, bukan sekadar percaya pada ringkasan otomatis.

Kedua, AI untuk penulisan ilmiah. Banyak mahasiswa menggunakan asisten penulisan berbasis AI untuk memperbaiki tata bahasa, struktur kalimat, hingga gaya penulisan akademik. Alat semacam ini sangat membantu, terutama bagi mahasiswa yang menulis dalam bahasa asing. Tetap saja, substansi argumen harus murni hasil pemikiran mahasiswa sendiri.

Ketiga, AI untuk manajemen waktu kuliah. Aplikasi penjadwalan pintar membantu mahasiswa mengatur jadwal kelas, deadline tugas, hingga waktu belajar mandiri. Data Chegg bahkan mencatat bahwa mahasiswa Indonesia menggunakan AI untuk membantu mengerjakan tugas akademik sebesar 86%, menyusun rencana pengembangan karier 52%, hingga membantu menyusun jadwal pribadi sebesar 33%.

Keempat, AI untuk simulasi dan praktikum. Di jurusan teknik, kedokteran, dan sains, simulasi berbasis AI memungkinkan mahasiswa berlatih dalam skenario virtual yang aman sebelum menghadapi kondisi nyata. Ini adalah salah satu wujud manfaat AI yang paling nyata, jauh dari sekadar membantu mengerjakan esai.

Kelima, AI untuk pengembangan karier. Banyak mahasiswa memanfaatkan AI untuk menyusun CV, melatih simulasi wawancara kerja, hingga menganalisis tren kebutuhan industri di bidang studi mereka. Pemanfaatan seperti ini menunjukkan bahwa AI bisa menjadi mentor pribadi, bukan sekadar mesin pengerjaan tugas.

Semua contoh ini menunjukkan potensi besar. Tetapi potensi besar selalu berdampingan dengan risiko besar pula, jika tidak diiringi kesadaran dan pengawasan yang tepat.


Antara Optimisme dan Kewaspadaan

AI di perguruan tinggi bukan ancaman yang harus dihindari. Justru sebaliknya, ia adalah alat yang bisa memperkuat proses belajar, jika digunakan dengan kesadaran penuh. Tapi kesadaran ini tidak datang otomatis. Ia harus dibentuk. Lewat kurikulum. Lewat diskusi terbuka di kelas. Lewat keteladanan dosen dalam menggunakan AI secara etis.

Gen Z sesungguhnya tidak butuh dilarang. Mereka butuh dibimbing. Mereka butuh ruang untuk bertanya kapan AI boleh dipakai, dan kapan harus berhenti lalu berpikir sendiri. Ketakutan yang mereka rasakan bukan kelemahan. Justru itu adalah bentuk kesadaran yang sehat, asalkan diarahkan menjadi kewaspadaan produktif, bukan kecemasan yang melumpuhkan.

Pada akhirnya, transformasi digital pendidikan akan terus berjalan, suka atau tidak. Pertanyaannya bukan lagi apakah Gen Z akan menggunakan AI. Mereka sudah menggunakannya, secara masif. Pertanyaan yang lebih relevan adalah, apakah mereka akan menjadi pengendali teknologi ini, atau justru menjadi korban dari kemudahan yang ditawarkannya.

Jawaban itu, sebagian besar, ada di pihak kampus dan sebagian lagi ada di tangan mahasiswa sendiri.